
Hutan Adat Toro
Lembaga Adat Toro · Sulawesi Tengah
Kopi di bawah tegakan hutan alam, dengan zonasi adat yang dipetakan penuh.
- Luas terpetakan
- 1.240 ha
- Harga per ton
- Rp 152.000
- Skor biodiversitas
- 79 · Baik
- Tinggi kanopi (CHM)
- 27 m
Profil daerah
- Kabupaten
- Sigi, Sulawesi Tengah
- Bentang alam
- Lembah Kulawi — penyangga TN Lore Lindu
- Tipe ekosistem
- Hutan pegunungan bawah & agroforestri kopi
- Ketinggian
- 700–1.450 m dpl
- Curah hujan
- 2.200 mm/tahun
- Aksesibilitas
- 3 jam darat dari Palu
- Penduduk pengelola
- ±2.100 jiwa, 520 KK
Sejarah lahan
1993
Penetapan kawasan taman nasional memicu konflik batas dengan lahan kelola warga.
2000
Kesepakatan konservasi masyarakat: zonasi wana, pangale, pahawa pongko, dan oma.
2012
Toro menerima pengakuan sebagai model pengelolaan hutan berbasis adat.
2019
Pengembangan kopi agroforestri sebagai penopang ekonomi tanpa membuka hutan.
2026
Sertifikasi kredit karbon melalui skema SRN PPI.
Deskripsi program
Agroforestri kopi & penjagaan zonasi adat
Menjaga 1.240 ha hutan adat dengan memperkuat ekonomi kopi di bawah naungan pohon, sehingga warga tidak perlu membuka tegakan baru. Zonasi adat menjadi dasar penegakan aturan pengelolaan.
- Peremajaan 90 ha kebun kopi naungan
- Unit pengolahan pascapanen dan akses pasar langsung
- Patroli zonasi oleh lembaga adat Toro
- Pemantauan biodiversitas dengan perekam bioakustik di 12 titik
- Pelatihan 40 petani muda untuk MRV lapangan
Dokumentasi lapangan



Dampak terukur
- Hutan adat dijaga
- 1.240 ha
- Petani terlibat
- 312 KK
- Kenaikan harga kopi
- +35%
- Titik pantau bioakustik
- 12
Tata kelola & bagi hasil
- Lembaga adat Toro memegang keputusan zonasi dan sanksi adat
- Koperasi kopi mengelola pendapatan program secara terpisah dari dana karbon
- Audit internal komunitas setiap semester
Dokumen pendukung
- Peta zonasi adat ToroTersedia
- Data plot & rekaman bioakustikTersedia
- Berkas DRAMTersedia
- Sertifikat SRN PPITersedia
Potensi karbon & keuntungan
Estimasi dari luas 1.240 ha × faktor 6,5 tCO2e/ha/tahun (SRN PPI — Konservasi Hutan Alam) selama 10 tahun periode kredit.
Kredit karbon per tahun
8.060 tCO2e
Setara Rp 1.225.120.000 / tahun pada harga Rp 152.000/tCO2e
Total potensi 10 tahun
80.600 tCO2e
Nilai kotor Rp 12.251.200.000
Bagian pembiaya
4.030 tCO2e/tahun
50% sesuai komitmen bagi hasil · Rp 612.560.000 / tahun
Investasi diminta komunitas
Rp 980.096.000
Nilai yang diajukan perwakilan masyarakat adat untuk proyek ini
Perkiraan keuntungan bersih
Rp 5.145.504.000
Selama 10 tahun
Perkiraan ROI
525%
Nilai kredit bagian pembiaya dibanding investasi
Balik modal
± 1,6 tahun
Berdasarkan arus kredit tahunan
Angka bersifat estimasi demo dan akan dikoreksi setelah MRV lapangan, verifikasi validator independen, serta penerbitan kredit pada registri nasional (SRN PPI) maupun internasional.
Proyek selesai & tersertifikasi
Sertifikat CL-SRN-2026-0047 terbit 02 Juni 2026 — 9.640 tCO₂e, diserap Bank Rakyat Hijau.
Monitoring IoT terkini
- Kelembapan tanah rata-rata
- 64,8 % Normal
- Suhu tajuk
- 24,7 °C Normal
- Titik panas 30 hari
- 1 titik Perlu dicek
- Sensor bioakustik
- 14 spesies/jam Normal
- Curah hujan 30 hari
- 212 mm Normal
- Perangkat daring
- 7 dari 8 Perlu dicek
Komitmen pembagian hasil
- Lembaga Adat Toro70%
Dana pengelolaan wanatani kopi dan sekolah adat.
- Dana konservasi10%
Pemulihan zona penyangga.
- Operasional Carbonest20%
Verifikasi tahunan dan registri.
Pertumbuhan hutan & simpanan karbon
Laporan ESG
Standar acuan: SRN PPI Kementerian LHK · Plan Vivo · ISO 14064-2
- GRI 305-5
- Pengurangan emisi GRK
- 9.640 tCO2e
- GRI 413-1
- Program pelibatan masyarakat
- 100% desa
- IFRS S2
- Kredit karbon terverifikasi
- 100% verified
- TCFD
- Ketahanan bentang alam
- Sedang–Baik
- SDG 8
- Petani kopi hutan terlibat
- 212 orang
- SDG 15
- Luas hutan alam terjaga
- 1.240 ha
Dokumentasi lapangan



Tertarik mendukung proyek ini?
Perusahaan dapat membeli kredit karbon terverifikasi atau menjalin kemitraan CSR dengan komunitas adat.
